HEADLINE

Binance Ungkap Kronologi Peretasan Rp 114 Triliun, Diduga Berawal dari Laptop Karyawan

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:06 WIB • Waktu baca ± 4 menit
CC
Penulis: Carles | Jurnalis Redaksi
Binance Ungkap Kronologi Peretasan Rp 114 Triliun, Diduga Berawal dari Laptop Karyawan

Newscarles.com | Bursa kripto Binance mengungkap hasil investigasi awal terkait serangan siber yang menyebabkan aset digital senilai 6,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 114 triliun terdampak. Peretasan tersebut diduga bermula dari laptop milik seorang karyawan tim DevOps yang telah dikuasai pelaku.

Dalam pernyataan melalui akun X resmi @binance pada Jumat (30/10/2026), perusahaan menyebutkan bahwa sekitar 3 miliar dollar AS atau Rp 54,5 triliun aset kripto berhasil dibekukan melalui kerja sama dengan sejumlah mitra blockchain.

Sementara itu, sekitar 3,3 miliar dollar AS atau setara Rp 59,4 triliun aset lainnya belum berhasil dibekukan dan diduga masih berada dalam kendali peretas.

Insiden tersebut berpotensi menjadi salah satu peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto, melampaui kasus pencurian aset digital di bursa Bybit pada Februari 2025 yang mencapai 1,5 miliar dollar AS.

"Kami telah bekerja sama dengan mitra blockchain untuk membekukan aset yang terdampak. Estimasi total dampak insiden ini mencapai sekitar 6,3 miliar dollar AS," tulis Binance.

Berawal dari Laptop Karyawan

Berdasarkan hasil investigasi awal, Binance menduga serangan bermula dari laptop milik seorang karyawan tim DevOps yang telah diretas.

Pelaku kemudian memanfaatkan akses dari perangkat tersebut untuk menembus sebuah kontainer layanan (service container) di lingkungan sistem internal Binance.

Dari akses tersebut, peretas diduga berhasil mengirimkan transaksi penarikan aset kripto tanpa izin.

Meski demikian, Binance menyatakan belum menemukan bukti adanya kebocoran kunci privat (private key) dompet kripto.

Perusahaan juga berjanji akan menyampaikan laporan teknis secara terperinci setelah seluruh proses investigasi selesai dan fakta-fakta terkait insiden terverifikasi.

Binance Hentikan Sementara Transaksi

Setelah mendeteksi indikasi peretasan, Binance segera melakukan sejumlah langkah pengamanan untuk membatasi dampak serangan.

Perusahaan menghentikan sementara layanan deposit dan penarikan aset kripto selama pemeriksaan keamanan berlangsung. Binance juga mencabut otorisasi alamat yang terdampak guna mencegah transaksi lanjutan.

Selain itu, perusahaan bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan sejumlah perusahaan analisis blockchain untuk melacak serta memulihkan aset yang dicuri.

Upaya pembekuan aset turut melibatkan penerbit stablecoin Tether dan Circle.

CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan pihaknya telah membekukan lebih dari 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 27,2 triliun aset yang berkaitan dengan insiden tersebut.

Sementara itu, CEO Circle, Jeremy Allaire, menyebut perusahaannya telah membekukan lebih dari 800 juta dollar AS atau setara Rp 14,5 triliun aset USDC yang terkait dengan serangan tersebut.

Binance memastikan seluruh kerugian akibat insiden ini akan ditanggung menggunakan dana darurat perusahaan, Secure Asset Fund for Users (SAFU), serta dana internal.

Perusahaan juga menegaskan bahwa aset pengguna tetap aman dan akan menerbitkan pembaruan Proof of Reserves setelah proses pemulihan serta penanganan insiden selesai.

Diduga Melibatkan Kelompok Peretas Korea Utara

Di tengah proses penyelidikan, sejumlah perusahaan analisis blockchain menduga kelompok peretas asal Korea Utara terlibat dalam serangan terhadap Binance.

Menurut laporan BBC, perusahaan analisis blockchain TRM Labs mengaitkan insiden tersebut dengan kelompok peretas bernama TraderTraitor.

Dugaan itu didasarkan pada analisis aktivitas transaksi blockchain serta kemiripan pola serangan dengan sejumlah kasus peretasan sebelumnya.

Perusahaan analitik blockchain asal Amerika Serikat, Chainalysis, juga menyatakan memiliki tingkat keyakinan tinggi bahwa kelompok peretas Korea Utara terlibat dalam insiden tersebut.

Kelompok peretas Korea Utara diketahui berulang kali menargetkan perusahaan kripto untuk mencuri aset digital dalam jumlah besar.

Dana hasil pencurian tersebut diduga menjadi salah satu sumber pemasukan bagi negara tersebut dan diperkirakan digunakan untuk mendukung berbagai program, termasuk pengembangan senjata nuklir dan rudal.

Meski demikian, dugaan keterlibatan kelompok TraderTraitor dalam peretasan Binance belum dikonfirmasi secara resmi oleh aparat penegak hukum.

Hingga kini, Binance masih menyelidiki bagaimana pelaku dapat menguasai laptop karyawan dan memanfaatkan akses tersebut untuk melakukan penarikan aset digital tanpa izin.

Perusahaan juga belum mengungkap identitas pelaku maupun metode teknis serangan secara lengkap.

CC
Carles Jurnalis Redaksi
Bagikan

BERITA LAINNYA

KOMENTAR PEMBACA (0)