Biografi & Jejak Langkah
Cut Nyak Dhien merupakan figur penting yang menempati posisi strategis sebagai Pemimpin gerilya Aceh (1850 - 1908). Rekam jejak kepemimpinan serta konsistensi pengabdiannya menjadikannya salah satu tokoh publik yang kerap menjadi rujukan pemberitaan media nasional.
Latar Belakang dan Awal Kehidupan
Cut Nyak Dhien (juga dieja Cut Nyak Din; ejaan lama: Tjoet Nja' Dhien; lahir sekitar 1848–1850 – meninggal 6 November 1908) adalah bangsawan dan pemimpin perlawanan Aceh yang memainkan peranan penting dalam Perang Aceh melawan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Ia berasal dari keluarga uleebalang VI Mukim di Aceh Besar dan sejak perang meletus pada 1873 menjalani sebagian besar kehidupannya dalam lingkungan perlawanan. Setelah suami pertamanya, Teuku Ibrahim Lamnga, gugur pada 1878, ia menikah dengan Teuku Umar, salah satu panglima Aceh yang paling terkemuka. Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, Cut Nyak Dhien melanjutkan perlawanan dengan memimpin kelompok gerilyanya sendiri sampai akhirnya ditangkap pasukan Belanda pada 1905.
Perjalanan Karier dan Rekam Jejak Prestasi
Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien mula-mula ditempatkan di Kutaraja sebelum pemerintah kolonial memutuskan membuangnya dari Aceh karena pengaruhnya terhadap masyarakat dan hubungannya dengan jaringan perlawanan yang masih aktif. Keputusan pengasingan dikeluarkan pada 1906 dan ia tiba di Sumedang pada 1907. Di sana identitasnya disembunyikan dari masyarakat setempat dan ia dikenal sebagai Ibu Perbu atau Ibu Ratu. Meskipun kesehatannya telah menurun dan penglihatannya terganggu, ia mengajarkan Al-Qur'an dan pengetahuan agama kepada penduduk hingga meninggal pada 6 November 1908.
Atas peranannya dalam perlawanan terhadap kolonialisme, pemerintah Indonesia menetapkan Cut Nyak Dhien sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106/TK/1964 tanggal 2 Mei 1964.
Tahun kelahiran Cut Nyak Dhien tidak sepenuhnya seragam dalam historiografi.